Baca dan Tulis Jadi Modal Usaha

file server jardiknas

LOMBOK, - Provinsi Nusa Tenggara Barat cukup agresif mengurangi tingginya angka buta aksara. Hal itu nampak dari jumlah signifikan penyelesaian buta aksara di semua wilayah NTB dalam kurun tiga tahun terakhir.

Tercatat, pada 2009 angka buta aksara di seluruh NTB mencapai 417.626 jiwa. Namun saat ini, jumlah tersebut menyusut tajam dan hanya tersisa kurang dari 70 ribu jiwa yang tersebar di wilayah Lombok Tengah, dan Lombok Timur.

Namun, usaha memberantas buta aksara tek semudah yang dibayangkan. Selain mengajarkan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung, tantangan sebenarnya adalah memelihara agar masyarakat yang telah melek huruf itu tidak kembali menjadi buta aksara.

Untuk menyiasatinya, pemerintah daerah Provinsi NTB bekerjasama dengan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) yang dikelola oleh masyarakat memberikan "kelas" lanjutan setelah masyarakat selesai mengikuti kelas Keaksaraan Fungsional (KF) dasar.

Pamong Belajar Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Masyarakat (BPKBM) Provinsi NTB, Djarto mengatakan, setelah "lulus" dari kelas KF dasar, masyarakat setempat didorong untuk terjun ke dunia usaha.

"Setelah diberi keterampilan keaksaraan, mereka diberi keterampilan berwirausaha dengan memanfaatkan kemampuan baca tulisnya," kata Djarto saat ditemui Kompas.com di Lombok Timur, NTB, Sabtu (12/5/2012).

Djarto menambahkan, penguatan berwirausaha melalui KUM diyakini dapat mencegah masyarakat kembali buta huruf.

"Pendidikan keaksaraan jangan hanya ditempatkan pada konteks pemberantasan buta aksaranya saja. Dengan kegiatan usaha, kemampuan baca tulis dan berhitung akan digunakan dan terpelihara," ujarnya.

Dilanjutkan Djarto, upaya menuntaskan buta aksara tidak bisa dilakukan tergesa-gesa. Setidaknya, perlu waktu minimal satu tahun untuk menjamin masyarakat melek huruf dan tidak kembali pada level buta aksara.

Waktu satu tahun itu, jelasnya, dapat dibagi menjadi 6 bulan dalam kelas KF dasar, 3 bulan dalam KUM, dan 3 bulan untuk penguatan kemampuan berwirausahanya. "Agar bisa tuntas, jangan tergesa-gesa mengejar target. Pelan-pelan tetapi mantap," tandasnya.

Ketua PKBM Smumas, Mujtahidin, mengatakan wilayah dimana PKBM itu berdiri sudah terbebas dari buta aksara. Seluruh masyarakat telah memiliki keterampilan calistung sejak beberapa tahun lalu.
Untuk pemeliharaan keterampilan tersebut, PKBM Smumas menggalakkan KUM melalui kerajinan tenun. Para masyarakat yang notabene memiliki keterampilan menenun diberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan berwirausahanya.

Di Kelas Usaha Mandiri PKBM Smumas yang didominasi oleh kaum wanita, mereka diberikan akses yang lebih luas saat akan memasarkan kain hasil tenunannya. Saat ini, PKBM Smumas yang terletak di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, dikenal sebagai PKBM penghasil kain tenun dengan kualitas yang sangat baik.

"Selain dapat menambah penghasilan, KUM ini juga sebagai upaya memelihara keterampilan calistung mereka," kata Mujtahidin.

Ditemui terpisah, Ketua Lembaga Pembinaan Pendidikan Nonformal dan Informal Assyuro, Hamdi mengungkapkan hal senada, kemampuan keaksaraan warga belajar di lembaganya dapat terpelihara lantaran ada kesempatan mereka untuk mengasah kemampuan tersebut melalui KUM. Para warga yang belajar calistung itu juga diberikan pelatihan membuat pernak-pernik dengan bahan dasar limbah kaca, pasir laut, dan tanah liat.

"Semua diberikan keterampilan secara cuma-cuma agar kerajinan yang dibuatnya memiliki daya tarik dan nilai jual. Ini cara kami memelihara kemampuan calistung masyarakat di sekitar sini," kata Hamdi.

 

kompas-edu

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply