Advertisement

Cerita tentang Mimpi Mengabdi Negeri…

Myrna ratna dan Try haryono

”Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi, dan berbinar menyaksikan kehadiranmu. Dan yang terpenting, Anda sebagai anak terbaik telah ikut—sekecil apa pun—mendorong kemajuan, mengubah masa depan mereka menjadi lebih cerah….”

Itu adalah sepenggal isi e-mail dari Anies Baswedan yang merupakan kata-kata perpisahannya mengantar keberangkatan 51 pengajar muda ”Indonesia Mengajar” menuju dusun-dusun di pelosok Indonesia, awal Desember lalu. Dalam suratnya yang menyentuh itu, Anies menyebutkan bahwa mereka adalah anak-anak usia muda yang meninggalkan kenyamanan hidup.

Ke-51 pengajar muda itu (Baca: Mereka yang Dibutuhkan Negeri Ini) merupakan orang-orang muda terpilih, bahkan mungkin yang terbaik di generasinya. Banyak di antara mereka yang telah hidup mapan dengan gaji yang sangat memadai. Tetapi mereka kemudian banting setir, untuk sebuah mimpi bersama: ingin mengabdi kepada negeri tercinta, ingin menyatu dengan rakyat jelata. Mereka memutuskan menjadi guru SD di desa-desa tanpa listrik.

”Saya terinspirasi oleh ucapan Pak Anies dalam sebuah seminar bahwa fresh graduate saat ini cuma punya indeks PK (prestasi kumulatif) tinggi, tetapi cara berpikirnya tidak terstruktur, cara bicaranya tidak sistematis. Pas denger itu, saya berpikir, loh kok kayak saya banget,” kata Nesia Anindita, anak Jakarta yang tinggal di kawasan elite di Kebayoran Baru dan memperoleh penempatan mengajar di Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Bengkalis.

Nesia kemudian mendaftarkan diri menjadi kandidat Indonesia Mengajar, bersama sekitar 1.382 pelamar lainnya. Dari jumlah ini, yang tersaring hanya 51 orang, termasuk dirinya.

Digembleng

Namun, perjuangan berat itu barulah dimulai. Selama delapan minggu mereka digembleng mental, fisik, intelektual, di sebuah wisma pelatihan di Desa Pancawati, Ciawi, Jawa Barat. Dari pukul 04.00 subuh sampai pukul 22.00 malam.

Untuk membiasakan diri di tempat terpencil yang dipastikan tidak ada aliran listrik, tidak ada sinyal telepon, tidak ada internet itu, sejak pukul 22.00 sampai menjelang subuh, listrik di tempat pelatihan dimatikan dan semua telepon genggam diserahkan kepada panitia.

Betul, penggemblengan mental dan disiplin selama pelatihan sangat keras. Para calon pengajar itu bahkan harus lulus pelatihan survival di hutan dan rimba di bawah bimbingan Rindam (Resimen Induk Kodam).

”Di sini mereka yang takut ketinggian, takut air, akan ditangani, karena medan yang akan mereka hadapi membutuhkan persyaratan ini. Untuk yang takut air, misalnya, ada pelatihan renang, termasuk survival di sungai. Mereka juga diajari bagaimana bikin air jernih sampai air yang bisa diminum. Mereka juga belajar 12 daun yang bisa dimakan di hutan, bisa hidup dengan berbekal gula merah,” kata Ahmad Sjhahid, fasilitator program ini yang sekaligus menjadi ”bapak asuh” para calon pengajar muda.

Tantangan terberat tentulah proses transformasi ilmu, karena para calon pengajar ini bukan saja harus mengikuti panduan kurikulum nasional, tetapi juga harus menggabungkannya dengan cara mengajar yang kreatif. ”Apalagi mereka sama sekali tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya,” tambahnya.

Sebagai contoh, para pengajar ini harus mampu menerjemahkan kurikulum dengan metode yang mendukung konsep multiple intelligences. Kalau disederhanakan kira-kira, bagaimana agar kurikulum itu membuat murid jadi senang belajar. Misalnya saja untuk menjelaskan konsep keseimbangan, salah satu pengajar membuat boneka yang baru bisa berdiri bila pembagian beban di kedua sisinya tepat.

Tetapi tentu saja setiap wilayah tantangannya berbeda. Begitu terjun ke lapangan, mereka harus berdiskusi dengan pihak daerah untuk menyesuaikan ”kebutuhan” para murid. Misalnya saja, di pelosok Halmahera tak jarang murid-murid kelas I dan II SD masih belum bisa membaca sehingga untuk mereka, pelajaran baca tulis lebih diutamakan daripada pelajaran IPA.

Mengubah sudut pandang

Setelah melewati empat minggu penggemblengan, para calon pengajar ini kemudian datang ke sekolah-sekolah di sekitar Desa Pancawati untuk mengajar. ”Yang menarik, mereka datang kembali ke sekolah yang sama dengan cara pandang yang berbeda. Misalnya saja, mereka tidak lagi memfokuskan pada soal ’apa yang kurang di sekolah’, tetapi datang dengan semangat ’apa yang bisa kita bantu’,” kata Sjhahid.

Di minggu keenam, para pengajar muda ini dikelompokkan menjadi lima orang dan setiap kelompok wajib memegang satu sekolah selama satu minggu, dengan diawasi pengajar dari Universitas Negeri Jakarta. ”Setelah tujuh minggu, kemampuan berbicara saya berubah pesat, saya lebih percaya diri berbicara di depan forum. Tetapi yang paling membuat saya bahagia, begitu program mengajar satu minggu selesai, saya dikerubuti anak-anak, dan ada yang meluk saya sambil nangis. Wah itu hadiah yang spesial banget…,” tambah Nesia.

Siang itu, satu per satu pengajar muda membereskan kopernya dan menyeretnya ke beranda depan. Itu adalah hari terakhir mereka berada di wisma pelatihan. Bagi Adeline Magdalena Sutanto yang lulusan Geologi ITB, itu adalah ”dua bulan yang hebat”, karena ia berjuang bersama rekan-rekan yang punya mimpi tentang Indonesia yang lebih baik.

”Indonesia harus optimistis, masih ada teman-teman saya yang semuanya wow…. Orang-orang bisa berdebat tentang pendidikan di televisi, di koran, tetapi itu tak akan mengubah apa pun, karena gurulah yang paling berperan mengubah kualitas pendidikan,” kata perempuan yang ditempatkan di Desa Totolisi, Kecamatan Senggara, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, ini.

Sebagai warga keturunan, Adeline justru makin bersemangat. ”Dari kecil saya selalu memiliki pengalaman sebagai minoritas. Soal ini Pak Anies pernah bilang, biarlah kamu menjadi hal baru bagi mereka (murid-muridnya). Menurut saya, akan sangat mungkin mereka baru pertama kali melihat sosok putih bermata sipit di desanya. Semoga ini membuka pandangan mereka bahwa Indonesia itu penuh warna,” katanya.

kompas-edu

Related Sites

OK